Merawang, Bangka
Prov. Kepulauan Bangka Belitung
07179100097
Balunijuk.bangka@gmail.com
Jika anda berkunjung ke Desa Balunijuk Kecamatan Merawang kabupaten Bangka, tepat ditengah perkampungan, ada sebuah rumah panggung yang masih berdiri kokoh kendati sudah berusia ratusan tahun. Keberadaannya begitu mencolok lantaran rumah itu adalah satu-satunya rumah panggung yang kini masih bertahan di desa tersebut. Rumah panggung yang dibangun almarhum Haji Muhammad Ali dan almarhum Hj Ropisah ini adalah rumah pertama yang berdiri di Desa Balunijuk. Kini keberadaan rumah panggung itu menjadi penanda berdirinya desa Balunijuk. Asitektur rumah panggung itu benar-benar mencerminkan arsitektur khas rumah Melayu Bangka. Jika papan dinding rumah yang kita kenal biasanya dibangun mendatar, di rumah panggung itu dibuat tersusun berdiri tegak. Sementara atap gentengnya dibuat berbentuk Limas yang mencerminkan pengaruh Palembang dengan lengkungan mirip kelenteng yang mencerminkan pengaruh budaya Tionghoa. Sementara ukiran di ujung atap merupakan ukiran khas Melayu Bangka yang dikenal dengan ukiran layar terbalik. Pengaruh budaya Belanda terlihat dengan adanya tangga beton di depan rumah.
Rumah panggung yang merupakan rumah tertua di Desa Balunijuk itu oleh ahli warisnya Waluyo, rumah itu sengaja dipertahankan dan tidak diotak atik untuk menjadi pemersatu keturunan H Muhammad Ali dan almarhum Hj Ropisah yang merupakan pendiri kampung Balunijuk. Menurutnya, rumah panggung itu pernah ditawar untuk dibeli warga lainnya yang terhitung masih berhubungan saudara, namun ia tolak lantaran rumah itu bagi dirinya dan keluarganya memiliki nilai yang tak bisa dinilai dengan materi. "Kayu-kayunya masih bagus dan tidak mengalami pelapukan. Rayap pun hanya mampu memakan kulit luarnya saja dan tak mampu masuk kedalam kayunya. Yang kalah dan lapuk malah paku-pakunya," ungkap Waluyo. Saat membangun rumah panggung itu, almarhum H Muhammad Ali sengaja mendatangkan genteng dan kayu-kayu terbaik dari daratan sumatera.
Almarhum H Muhammad Ali sendiri berasal dari desa Baturusa dan awalnya berkebun lalu menetap di Balunijuk. Dari hanya dihuni satu dua orang saja, wilayah itu selanjutnya mulai ramai didatangi warga Baturusa untuk berkebun dan berubah menjadi perkampungan. Desa tersebut awalnya disebut dengan nama Kampung Baru dan selanjutnya setelah semakin ramai berubah menjadi Desa Balunijuk. "Kalau bisa rumah panggung ini bisa mendapat perhatian dinas terkait. Soalnya ini merupakan bagian sejarah desa ini," harap Waluyo.
Kirim Komentar